JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II
PERCOBAAN XIII
“UJI LEMAK”
DISUSUN OLEH :
NAMA : NADIYA QOTRUNNADA TOHIRI
NIM : A1C118073
KELAS : REGULER B 2018
DOSEN PENGAMPU :
Dr. Drs. SYAMSURIZAL , M.Si
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
PERCOBAAN XIII
I. Judul : Uji Lemak
II. Hari/Tanggal : Jumat/ 18 Desember 2020
III. Tujuan : Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini:
1. Dapat mengetahui beberapa sifat lemak
2. Dapat mengetahui reaksi penyabunan dari lemak maupun minyak
IV. Landasan Teori
Sabun adalah surfaktab yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan. Sabun menurunkan tegangan permukaan air, sehingga memungkinkan air untuk membasahi bahan untuk dicuci lebih efektif. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat sabun adalah streat, minyak, natriun hidroksida (NaOH), gliserin, gula pasir, etanol, surfaktan, natrium klorida, asam sitrat, pewarna dan pewangi. Istilah penyabunan (saponification) artinya pembuatan sabun mula-mula digunakan untuk menjelaskan reaksi antara eter dan natrium hidroksida menghasilkan molekul sabun (natrium stearatt) (Tim Kimia Organik, 2020).
Lipid atau lemak ialah senyawa organic yang banyak ditemukan dalam sel jaringan. Lipid memiliki sifat tidak larut dalam air namun dapat larut dalam zat pelarut non polar seperti eter, kloroform,dan benzene. Lipid ini bersifat non polar atau hidrofobik. Dimana, penyusun utama lipid ini adalah trigliserid, yaitu ester gliserol dengan tiga asam lemak yang dapat beragam. (Mamuaja,2017).
Uji ripitabilitas pada analisis kadar lemak pakan buatan ditentukan dengan cara mengukur nilai masing-masing kadar lemak sebanyak delapan kali ulangan dari masing-masing percobaan. Nilai uji ripitabilitas dinyatakan dalam nilai persen standar deviasi relatif (RSD) dan RSD Horwitz. Syarat keterimaan uji ripitabilitas yaitu apabila nilai RSD analisis lebih kecil dari pada nilai 2/3 kali RSD Horwitz (Pomeranz dan Meloan 1994; Garfield et al. 2000)
Asam lemak merupakan unit pembangun yang sifatnya khas untuk setiap lemak, atau sering disebut asam alkanoat atau asam karboksilat. Selama ini asam lemak diperoleh dengan cara menghidrolisis minyak sawit pada suhu tinggi yaitu 250-260◦C dan tekana 40-50 bar ataupun secara enzimatik. Ditinjau dari segi teknik dan ekonomi, kedua cara ini dinilai kurang efesian karena memerlukan terlebih dahulu suatu pakbrik pengolahan unruk memproduksi CPO sebagai bahan bakunya (Maulinda, 2016).
Metode pengujian lemak melalui ekstraksi langsung dapat digunakan untuk menganalisis sampel padat seperti pakan buatan untuk ikan. Analisis kadar lemak pakan menjadi bagian krusian untuk menentukan kualitas pakan buatan yang dihasilkan. Untuk menghasilkan data yang akurat dan menjaga mutu hasil uji laboratorium maka, kegiatan verifikasi metode analisa dipandang perlu untuk dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk meverifikasi metode lemak dengan ekstraksi langsung (Asmariani, dkk. 2017).
V. Alat dan Bahan
5.1 Alat
Adapun Alat yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Gelas beker 2. Plat tetes
3. Pipet tetes 4. Gelas ukur
5. Rak tabung reaksi 6. Tabung reaksi
7. Indikator universal 8. Pipet ukur
9. Voltex 10. Pro pipet
5.2 Bahan
Adapun Bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Larutan CaCl2 1% 2. Larutan CH3COOH
3. Larutan sabun 4. Larutan Mg2SO4 1%
5. Larutan HCl pekat 6. Larutan Pb Asetat 1%
7. Larutan kimia 0,1N 8. Larutan eter
9. Minyak 10. Aquades
11. Indicator phenolphthalein (PP)
VI. Prosedur Kerja
6.1 Uji Pembentukan Garam
1. Dimasukkan kedalam gelas beker larutan sabun sebanyak 30 ml. Lalu dicek pH nya sampai pH=7. Jika belum 7 maka ditambahkan larutan CH3COOH hingga pH nya menjadi 7.
2. Dibagi larutan tersebut menjadi tiga tabung, tabung 1 berisi 5 ml larutan sabun lalu ditambahkan 7 tetes larutan CaCl2 1%, tabung 2 berisi 5 ml larutan sabun lalu ditambahkan 7 tetes larutan MgSO4 1% dan tabung 2 disii 5 ml larutan sabun lalu ditambahkan 7 tetes larutan Pb asetat 1%. Diamati perubahan yang terjadi pada setiap tabung.
6.2 Uji Hidrolisa Sabun
1. Dimasukkan kedalam tabung reaksi larutan sabun sebanyak 10 ml, lalu ditambah dengan 5 ml aquades.
2. Ditambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes pada tabung reaksi. Kemudian larutan di vortex sampai homogen. Diamati perubahan yang terjadi pada setiap tabung.
6.3 Uji Sifat Emulsi Lemak
1. Dimasukkan 2 ml aquades pada tabung reaksi 1 lalu ditambahkan 5 tetes minyak. Pada tabung reaksi 2, dimasukkan 2 ml aquades lalu ditambahkan 5 tetes minyak dan 2 ml larutan sabun. Setelah itu di vortex dan didiamkan.
2. Diamati perubahan yang terjadi pada setiap tabung.
6.4 Uji Sifat Ketidakjenuhan Lemak
1. Dimasukkan kedalam tabung reaksi 2 ml minyak dan 5ml larutan eter. Lalu, divortex campuran dan ditambahkan KMnO4 0,1 N sebanyak 3 tetes.
2. Diamati perubahan yang terjadi pada setiap tabung.
6.5 Uji Pembuatan Asam Minyak
1. Dimasukkan kedalam tabung reaksi 5 ml larutan sabun dan 3 ml larutan HCl pekat. Lalu, divortex dan didiamkan hingga terbentuk 2 lapisan.
2. Diamati perubahan yang terjadi pada setiap tabung.
Permasalahan
1. Mengapa pada uji sifat emulsi lemak perlu di vortex?
2. KMnO4 pada uji sifat ketidakjenuhan lemak berfungsi sebagai?
3. Pada uji pembentukan garam mengaoa pH perlu dijadikan 7?
Baiklah saya Muhamad Khoirul Abdillah (040) akan mencoba menjawab permasalahan nomor 3. Pengaruh pH, dimana zat bersifat asam atau basa bersifat penyetabil emulsi. Pengaruh pH rendah meningkatkan “oil wetting solids” dan memperketat emulsi air dalam minyak. pH tinggi meningkatkan “water wetting solids” dan mempeketat emulsi minyak dalam air.
BalasHapusSaya Risa Novalina Ginting (A1C118070) akan menjawab permasalahan no 2. Fungsi KMnO4 adalah untuk oksidator yang memecah ikatan rangkap lemak (lemak tak jenuh) menjadi ikatan tunggal (asam lemak jenuh). Terimakasih
BalasHapusBaiklah, saya Thifani Aulia Putri Pane (A1C118009) akan mencoba menjawab permasalahan nomor 1. Dimana, perlakuan divortex tersebut diperlukan guna mempercepat penghomogenan larutan yang digunakan pada uji sifat emulsi lemak. Terimakasih.
BalasHapus